Makin modern, saya melihat bahwa kemampuan tekstual anak-anak muda makin merosot (hallah..)
Lihat saja, mereka kebanyakan lebih memilih bahasa SMS dan menjadi reflek dalam keseharian… Dan efeknya saat memasuki dunia yang sebenarnya. Lihat saja laporan atau lembar kerja sekolah, atau laporan pekerjaan, mereka akan empot-empotan karena tidak terbiasa menulis dengan benar.
- mereka tidak tau pentingnya meletakkan spasi setelah tanda titik dan tanda koma
- mereka tidak tau pentingnya huruf kapital setelah tanda titik dan huruf kapital pada awal nama benda, nama jabatan, nama gelar, nama orang, dan nama objek lain
- mereka tidak tau pentingnya semua huruf kapital pada sebuah kata akronim atau singkatan
- mereka tidak tau bedanya “di” dengan “di” pada kalimat “dipukul” atau “di Jakarta”
mereka tidak tau bahwa huruf kapital pada deretan kata adalah berarti berteriak atau berbicara dengan nada tinggi - mereka tidak tau bahwa menebalkan kata atau deretan kata adalah bermaksud penegasan
- mereka tidak tau pentingnya memiringkan kata atau deretan kata asing atau daerah yang bukan merupakan kata dalam Bahasa Indonesia yang asli
- mereka bahkan tidak tau kenapa perlu meletakkan tanda baca di tempat yang diperlukan
Sadarlah kawan..Bahasa tulisan dimaksudkan untuk menyampaikan pesan yang tentunya penulis pesan tidak ingin ada salah penafsiran saat pesannya dibaca oleh penerima.Sebaiknya penulis bisa berfikir pada sisi pembaca dan memikirkan apa yang ada di benak pembaca saat membaca tulisannya
Tentunya kita harus kembali pada asumsi bahwa bahasa tulisan tidak bisa menggantikan bahasa lisan secara penuh. Ada intonasi, penekanan kata, mimik, ekspresi, panjang pengucapan, yang tentunya tidak mudah untuk diwakili oleh tulisan. Itulah sebabnya para pendahulu kita mencoba menjembatani keterbatasan itu dengan semacam protokol atau aturan bersama agar bahasa tulisan bisa dimaknai sebagai mana mestinya tanpa ada pengurangan atau pembelokan arti.
Misalkan saja :
- tanda koma untuk berhenti sementara pada kalimat yang belum selesai
tanda titik untuk mengakhiri sebuah kalimat. - tanda tanya untuk mengakhiri kalimat pertanyaan
- memisahkan beberapa kalimat dengan paragraf baru jika dirasa ada perubahan subtopik atau jika dirasa paragraf terlalu banyak dan bisa menimbulkan kesulitan pembacaan
- meletakkan spasi antara “di” dengan nama tempat. Anda tidak akan tertipu dengan kata “dimakan” atau “di Makan”, karena pada kata yang kedua, “Makan” adalah berarti nama tempat.
- anda tidak akan bingung dengan perbedaan kata “dia”, “Dia”, dan “DIA”, karena yang pertama adalah kata ganti orang ketiga tunggal, yang kedua adalah nama objek (orang atau tempat dll), dan yang ketiga adalah singkatan atau akronim
- anda akan faham, kenapa saat mengetikkan “dia mengenalku.wah” pada handphone, maka deretan huruf anda akan terbaca sebagai alamat situs dan mengandung link internet. Mengapa? Karena seharusnya anda mengetikkannya sebagai “dia mengenalku. Wah” (mengandung titik, spasi, dan huruf kapital setelah titik dan spasi).
- “aku suka celana kamu melihatnya” seharusnya ditulis sebagai “aku suka celana, kamu melihatnya” untuk mencegah ambiguitas.
Masalah ambiguitas ataupun salah penafsiran tentunya sudah terjadi sejak dahulu kala, sehingga dibuatlah aturan penulisan yang baik dan benar dan dibakukan, dan bukan hanya pada Bahasa Indonesia saja, tapi juga terjadi pada Bahasa Inggris dan bahasa lainnya. Seharusnya itu sudah cukup untuk mengakomodir segala keperluan kita untuk menyampaikan pesan singkat ataupun pesan panjang lebar dengan media tulisan.
Selain kedua masalah tersebut, tentunya masih ada beberapa akibat lain yang berpotensi ditimbulkan oleh penulisan yang salah, misalnya :
- efek konotasi yang negatif pada nama orang, objek lain, atau gelar
- efek pengacuan subjek atau objek yang salah pada kalimat
- efek rasa malas yang berlanjut pada akibat pesan yang tidak jadi dibaca
- efek-efek lain seperti amarah, buruk sangka jangka panjang, yang disebabkan karena penulis dan pembaca tidak memiliki pemahaman yang sama mengenai tulisan yang dibuat
Seingat saya, saat saya masih menjadi murid MI / SD, kami dibekali pelajaran membaca dan menulis dengan benar, bahkan menulis gaya bersambung pun sudah menjadi standar. Kenapa? Karena itu akan dilakukan pada kehidupan yang sebenarnya.
Saya ingat salah seorang dosen saya di UJB, bapak Thalib, yang mewajibkan kami menulis dengan format karya ilmiah dan tulisan tangan pada semua mata kuliahnya. Tentunya beliau menyadari kenyataan kurangnya pengetahuan tertulis pada anak muda jaman sekarang, sehingga meskipun betapa beratnya tugas beliau, saya tetap perlu angkat topi untuk beliau. Mudah-mudahan beliau sejahtera selalu.
Kembali saya meneguhkan diri saya, bahwa bahasa tulisan bukan mengenai “sok iyes” atau “sok pamer“, tapi lebih kepada usaha pemahaman yang seragam antara penulis dan pembaca di seluruh dunia, sehingga pesan yang terkandung di dalam sebuah tulisan akan dapat diterima dengan lengkap, minus kesalahan persepsi, minus ambiguitas.
Saatnya meyakinkan diri kita, bahwa pembelajaran tidak boleh berhenti, karena kita tidak tau siapa dan apa yang akan kita hadapi kelak.
Salam
